Science and the World
Monday, 22 August 2016
Friday, 10 June 2016
Thursday, 26 May 2016
Manusia dan Budaya
MANUSIA DAN KEBUDAYAAN
1. PENGERTIAN
Budaya berasal dari kata budi dan daya yang
memiliki arti cinta, karsa, dan rasa. Kata budaya berasal dari bahasa
Sansekerta (budhayah) yaitu bentuk jamak dari kata buddhi yang memiliki arti
budi atau akal. Kemudian arti dari kata budaya berkembang dalam arti culture,
yaitu sebagai segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah
alam. Berikut adalah pengertian budaya dari beberapa ahli:
a) Koentjaraningrat, kebudayaan adalah
keseluruhan system gagasan milik manusia yang harus melalui proses belajar.
b) Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi,
kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa, dan cipta dari masyarakat itu
sendiri.
c) Herkovits, kebudayaan adalah bagian dari
lingkungan hidup yang diciptakan oleh manusia itu sendiri.
Dengan demikian, kebudayaan atau budaya adalah
segala sesuatu yang menyangkut aspek kehidupan manusia baik material maupun
non-material. Banyak para ahli yang mengatakan kebudayaan kemungkinan besar
dipengaruhi oleh pandangan evolusionisme, teori yang menyatakan bahwa
kebudayaan itu akan berkembang dari tahap yang sederhana menuju tahap yang
lebih kompleks.
2. PERWUJUDAN KEBUDAYAAN
Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan dibagi
menjadi tiga wujud yaitu:
a) Wujud sebagai suatu kompleks dari ide-ide,
gagasan, nilai-nilai, norma-norma, dan peraturan.
Wujud tersebut menunjukkan wujud ide dari
kebudayaan, sifatnya abstrak, tak dapat diraba, dipegang, dan tempatnya ada di
alam pikiran warga masyarakat di mana kebudayaan yang bersangkutan itu hidup.
Kebudayaan ideal ini disebut pula tata kelakuan, hal ini menunjukkan bahwa
budaya ideal mempunyai fungsi mengatur, mengendalikan, dan member arah kepada
tindakan atau perbuatan manusia dalam masyarakat. Kebudayaan ideal ini dapat
disebut adat atau adat istiadat, yang sekarang banyak disimpan dalam arsip,
tape, dan computer. Jadi kebudayaan ideal ini adalah merupakan perwujudan dan
kebudayaan yang bersifat abstrak.
b) Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks
aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat.
Wujud ini dinamakan sistem social, karena
menyangkut tindakan dan kelakuan berpola dari manusia itu sendiri. Lebih
jelasnya tampak dalam bentuk perilaku dan bahasa pada saat mereka berinteraksi
dalam pergaulan hidup sehari-hari di masyarakat. Jadi system social ini
merupakan perwujudan kebudayaan yang bersifat konkret, dalam bentuk perilaku
dan bahasa.
c) Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil
karya manusia.
Wujud ini disebut juga kebudayaan fisik,
dimana wujud budaya ini hamper seluruhnya merupakan hasil fisik (aktivitas
perbuatan dan karya semua manusia dalam masyarakat). Contohnya: Candi
Borobudur, kain batik, dan lain-lain. Jadi kebudayaan fisik merpakan perwujudan
kebudayaan yang bersifat konkret dalam bentuk materi.
3. SUBSTANSI (ISI) UTAMA BUDAYA
Isi utama kebudayaan merupakan wujud abstrak
dari segala macam ide dan gagasan manusia yang bermunculan di dalam masyarakat
yang member jiwa kepada masyarakat itu sendiri, berupa system pengetahuan,
nilai, pandangan hidup, kepercayaan, persepsi, dan etos kebudayaan.
a) Sistem pengetahuan
Sistem pengetahuan yang dimiliki manusia
sebagai makhlk social merupakan suatu akumulasi dari perjalanan hidupnya dalam
hal berusaha memahami:
Alam sekitar
Alam flora di
daerah tempat tinggal
Alam fauna di
daerah tempat tinggal
Zat-zat bahan
mentah dan benda-benda di dalam lingkungannya
Tubuh manusia
Sifat dan tingkah
laku sesame manusia
Ruang dan waktu
Untuk memperoleh pengetahuan tersebut di atas
manusia melakukan tiga cara, yaitu:
Melalui
pengalaman dalam kehidupan social.
Berdasarkan
pengalaman yang diperolh melalui pendidikan formal (di sekolah), pendidikan non
formal (kursus-kursus, ceramah, penataran)
Melalui
petunjuk-petunjuk yang bersifat simbolis yang sering disebut sebagai komunikasi
simboliks.
b) Nilai
Nilai adalah sesuatu yang baik yang selalu
diinginkan dan dianggap penting oleh seluruh manusia. Karena itu, sesuatu
dikatakan memiliki nilai apabila berguna dan berharga (nilai kebenaran), indah(
nilai estetika), baik(nilai moral), religious( nilai agama). Yang menentukan
orientasi nilai budaya manusia di dunia adalah lima dasar yang bersifat
universal, yaitu:
Hakikat hidup
manusia (MH)
Hakikat karya
manusia (MK)
Hakikat waktu
manusia(MW)
Hakikat alam
manusia (MA)
Hakikat hubungan
antarmanusia(MM)
c) Pandangan Hidup
Pandangan hidup merupakan pedoman bagi suatu
bangsa atau masyarakat dalam menjawab atau mengatasi berbagai masalah yang
dihadapinya. Oleh karena itu, pandangan hidup merupakan nilai-nilai yang dianut
oleh suatu masyarakat dengan dipilih secara selektif oleh individu, kelompok
atau bangsa.
d) Kepercayaan
Kepercayaan yang mengandung arti yang lebih
luas daripada agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dorongan ini
sebagai akibat atau refleksi ketidakmampuan manusia dalam menghadapi
tantangan-tantangan hidup, dan hanya yang Mahatinggi saja yang mampu memberikan
kekuatan dalam mencari jalan keluar dari permasalahan hidup dan kehidupan.
e) Persepsi
Persepsi atau sudut pandang adalah suatu titk
tolak pemikiran yang digunakan untuk memahami kejadian atau gejala dalam
kehidupan. Persepsi terdiri atas:
Persepsi
Sensorik, yaitu persepsi yang terjadi tanpa menggunakan
salah satu indera manusia.
Persepsi
Telepati, yaitu kemampuan pengetahuan kegiatan mental individu lain.
Persepsi
Clairvoyance, yaitu kemampuan melihat peristiwa atau kejadian di tempat lain,
jauh dari tempat orang yang bersangkutan.
f) Etos Kebudayaan
Etos atau jiwa kebudayaan berasal dari bahasa
Inggris yang berarti watak khas. Etos sering tampak pada gaya perilaku warga
misalnya, berbagai benda kebudayaan hasil karya mereka, kegemaran-kegemaran
warga masyarakat yang bersangkutan. Contohnya, kebudayaan orang Jawa yang
dilihat oleh orang Batak, bahwa watak orang Jawa memancarkan ketenangan yang
berlebihan, tingkah laku yang sulit ditebak, gagasan yang berbelit-belit.
4. SIFAT-SIFAT BUDAYA
Kebudayaan yang dimiliki oleh setiap
masyarakat tidaklah sama, seperti Indonesia yang terdiri dari berbagai macam
suku bangsa yang berbeda, tetapi setiap kebudayaan mempunyai ciri atau sifat
yang sama. Di mana sifat-sifat budaya itu akan memiliki ciri-ciri yang sama
bagi semua kebudayaan manusia tanpa membedakan factor ras, lingkungan alam,
atau pendidikan. Yaitu sifat hakiki yang berlaku umum bagi semua budaya di mana
pun.
Sifat hakiki tersebut antara lain:
Budaya terwujud
dan tersalurkan dari perilaku manusia.
Budaya telah ada
terlebih dahulu daripada lahirnya suatu generasi tertentu
dan tidak akan mati dengan habisnya usia generasi yang bersangkutan.
Budaya diperlukan
oleh manusia dan diwujudkan dalam tingkah lakunya.
Budaya mencakup
aturan-aturan yang berisikan kewajiban-kewajiban, tindakan-tindakan
yang diterima dan ditolak, tindakan-tindakan yang dilarang dan
tindakan-tindakan yang diizinkan.
5. SISTEM BUDAYA
Sistem budaya merupakan komponen dari
kebudayaan yang bersifat abstrak dan terdiri dari pikiran-pikiran,dan
keyakinan. Fungsi system budaya adalah menata serta menetapkan
tindakan-tindakan dan tingkah laku manusia.
Unsur pokok kebudayaan:
Sistem norma yang
memungkinkan kerjasama antara anggota masyarakat
Organisasi
ekonomi
Alat-alat dan
lembaga pendidikan
Organisasi
kekuatan
Alat-alat
teknologi
Keluarga
Kekuasaan politik
Jenis kebudayaan dikelompokkan menjadi dua kebudayaan
yaitu:
Kebudayaan
Material
Kebudayaan material antara lain hasil cipta,
karsa, yang berwujud benda, barang alat pengolah alam, seperti gedung, jalan,
rumah.
Kebudayaan
non-material
Merupakan hasil cipta, karsa, yang berwujud
kebiasaan, adat istiadat, ilmu pengetahuan. Contohnya: norma kesusilaan, norma
kelaziman, norma hokum, fashion.
Dari dimensi wujudnya dikelompokkan menjadi
tiga bagian yaitu:
Sistem Budaya
Kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai,
peraturan dan sebagainya.
Sistem Sosial
Merupakan kompleks dari aktivitas serta
berpola dari manusia dalam organisasi dan masyarakat.
Sistem Kebendaan
Wujud kebudayaan fisik atau alat-alat yang
diciptakan manusia untuk kemudahan hidup.
6. MANUSIA SEBAGAI PENCIPTA DAN PENGGUNA KEBUDAYAAN
Tercipta atau terwujudnya suatu kebudayaan
adalah sebagai hasil interaksi antara manusia dengan segala isi alam raya ini.
Manusia juga diberikan kemampuan yang disebutkan sebagai daya manusia, antara
lain akal, intelegensia, perasaan, fantasi, perilaku, dan intuisi.
Kebudayaan adalah produk manusia, namun
manusia itu sendiri adalah produk kebudayaan. Dengan kata lain, kebudayaan ada
karena ada manusia penciptanya dan manusia dapat hidup di tengah kebudayaan
yang diciptakannya. Dialetika ini dapat disebut sebagai dialektika fundamental.
Dialektika fundamental terdiri dari tiga tahap yaitu:
Tahap Eksternalisasi, proses pencurahan diri manusia secara
terus-menerus ke dalam dunia melalui akivitas fisik dan mental.
Tahap
Objektivitas, tahap aktivitas manusia yang menghasilkan suatu realita objektif
yang berada di luar diri manusia.
Tahap Internalisasi, tahap dimana realitas objektif hasil ciptaan manusia diserap
oleh manusia kembali.
Kebudayaan memiliki peranan penting terhadap
manusia sebagai:
Suatu hubungan
pedoman antarmanusia atau kelompoknya.
Wadah untuk
menyalurkan perasaan-perasaan dan kemampuan-kemampuan
lain.
Sebagai pebimbing
kehidupan dan penghidupan manusia
Pembeda manusia
dan binatang
Petunjuk-petunjuk
tentang bagaimana manusia harus bertindak dan berprilaku di dalam pergaulan
Pengaturan agar
manusia dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak, berbuat, menentukan
sikapnya jika berhubungan dengan orang lain
Sebagai modal
dasar pembangunan
Kebudayaan mempunyai fungsi yang besar bagi
manusia dan masyarakat, berbagai macam kekuatan harus dihadapi manusia dan
masyarakat seperti kekuatan alam dan kekuatan lain. Selain itu manusia dan
masyarakat memerlukan kepuasan baik secara spiritual maupun materiil. Jadi
kebudayaan masyarakat tersebut sebagian besar dipenuhi oleh kebudayaan yang
bersumber pada masyarakat itu sendiri.
7. PENGARUH BUDAYA TERHADAP LINGKUNGAN
Budaya yang dikembangkan oleh manusia akan
berimplikasi pada lingkungan tempat kebudayaan itu berkembang. Dengan menganalisis
pengaruh akibat budaya terhadap lingkungan seseorang dapat mengetahui, mengapa
suatu lingkungan tertentu akan berbeda dengan lingkungan lainnya dan
menghasilkan kebudayaan yang berbeda pula. Beberapa variable yang berhubungan
dengan masalah kebudayaan dan lingkungan:
Physical
Environment, menunjuk pada lingkungan natural, seperti:
iklim, tempratur, flora, fauna, curah hujan, wilayah geografis.
Cultural Social
Environment, meliputi aspek kebudayaan beserta proses sosialisasi seperti:
adat-istiadat, norma-norma, dan nilai-nilai.
Environmental
Orientation and Representation, mengacu pada persepsi dan
kepercayaan kognitif yang berbeda-beda pada setiap masyarakat mengenai
lingkungannya.
Environmental
Behavior and Process, meliputi bagaimana masyarakat menggunakan lingkungan
dalam hubungan social.
Out Carries Product, meliputi hasil tindakan manusia seperti membangun
rumah, kota, komunitas.
Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa
kebudayaan yang brlaku dan dikembangkan dalam lingkungan tertentu berimplikasi
terhadap pola tata laku, norma, nilai dan aspek kehidupan lainnya yang akan
menajdi ciri khas suatu masyarakat dengan masyrakat yang lainnya.
8. PROSES DAN PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN
Sebagaimana diketahui bahwa kebudayaan adalah
hasil cipta, karsa dan rasa manusia oleh karenanya kebudayaan mengalami
perubahan dan perkembangannya sejalan dengan perkemabangan manusia itu.
Perkembangan kebudayaan terhadap dinamika kehidupan seseorang bersifat
kompleks, dan memiliki eksistensi dan berkesinambungan dan juga menjadi warisan
social. Seseorang mampu mempengaruhi kebudayaan dan memberikan peluang untuk
terjadinya perubahan kebudayaan.
Kebudayaan yang dimiliki suatu kelompok social
tidak akan terhindar dari pengaruh kebudayaan kelompok-kelompok lain dengan
adanya kontak-kontak antarkelompok atau melalui proses difusi. Suatu kelompok
social, akan mengadopsi suatu kebudayaan tertentu bilamana kebudayaan tersebut
berguna untuk mengatasi atau memenuhi tuntutan yang dihadapinya. Pengadopsian
suatu kebudayaantidak terlepas dari pengaruh factor-faktor lingkungan fisik
seperti, iklim, topografi sumber daya alam dan sejenisnya.
Kebudayaan dari suatu kelompok social tidak
secara komplit ditentukan oleh lingkungan fisik saja, namun lingkungan tersebut
sekadar memberikan pelaung untuk terbentuknya sebuah kebudayaan. Perkembangan
zaman mendorong terjadinya perubahan-perubahan di segala bidang, termasuk dalam
hal kebudayaan. Cepat atau lambat pergeseran ini akan menimbulkan konflik
antara kelompok-kelompok yang menghendaki perubahan dengan kelompok-kelompok
yang tidak menghendaki perubahan. Namun, perubahan kebudayaan ini kadang kala
disalah artikan menjadi suatu penyimpang kebudayaan. Interpretasi ini mengambil
dasar pada adanya budaya-budaya baru yang tumbuh dalam komunitas mereka yang
bertentangan dengan keyakinan mereka sebagai penganut kebudayaan tradisional
selama turun-temurun. Hal yang terpenting dalam proses pengembangan kebudayaan
adalah degan adanya control atau kendali terhadap perilaku regular (yang
tampak) yang ditampilkan oleh para penganut kebudayaan. Sehingga masyarakat
dapat memilah-milah, mana kebudayaan yang sesuai dan mana yang tidak sesuai.
9. PROBLEMATIKA KEBUDAYAAN
Beberapa Problematika Kebudayaan antara lain:
Hambatan budaya
yang berkaitan dengan pandangan hidup dan system kepercayaan
Hambatan budaya
yang berkaitan degan perbedaan persepsi atau sudut pandang antara masyarakat
dan pelaksana pembangunan.
Hambatan budaya
berkaitan dengan factor psikologi atau kejiwaan
Masyarakat yang
terasing dan kurang komunikasi dengan masyarakat luar.
Sikap
tradisionalisme yang berprasangka buruk terhadap hal-hal baru
Sikap
Etnosentrisme, sikap yang mengagungkan budaya suku bangsanya sendiri dan
menganggap rendah budaya suku bangsa lain.
Perkembangan IPTEK
sebagai hasil dari kebudayaan, sering sekali
disalahgunakan oleh manusia
10. PERUBAHAN KEBUDAYAAN
Sebagaimana diketahui bahwa kebudayaan
mengalami perkembangan( dinamis) seiring dengan perkembangan manusia itu
sendiri, oleh karenanya tidak ada kebudayaan yang bersifat statis. Ada lima
factor yang menjadi penyebab perubahan kebudayaan, yaitu:
Perubahan
lingkungan alam
Perubahan yang
disebabkan adanya kontak dengan suatu kelompok lain
Perubahan karena
adanya penemuan
Perubahan yang
terjadi karena suatu masyarakat atau bangsa mengadopsi
beberapa elemen kebudayaan material yang telah dikembangkan oleh bangsa lain di
tempat lain
Perubahan yang
terjadi karena suatu bangsa memodifikasi cara hidupnya dengan mengadopsi suatu
pengetahuan atau kepercayaan baru, atau karena perubahan dalam pandangan hidup dan konsepsinya tentang realitas.
Jadi perubahan kebudayaan sebagai hasil cipta,
karsa dan rasa manusia adalah perubahan yang memberikan nilai manfaat bagi
manusia dan kemanusiaan, bukan sebaliknya memusnahkan manusia sebagai pencipta
kebudayaan tersebut.
Thursday, 21 April 2016
MOBILITAS PENDUDUK
Untuk
memenuhi tugas mata kuliah Sosiologi kependudukan dan kesehatan
Oleh
Kelompok
V 2014 B
1. Stefanus
Raga Teha
2. Floriana
L.Pandong
3. Kristianus Hadia
4. Serviana Rasmania
5. Florentinus Delsan Siar
6. Heldiana Meling
INSTITUT
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN BUDI UTOMO
FAKULTAS
ILMU SOSIAL DAN HUMANIORA
JURUSAN
SEJARAH DAN SOSIOLOGI
2016
MALANG
KATA
PENGANTAR
Puji syukur ke
hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah “Mobilitas
Penduduk” dengan baik meski masih banyak kekurangannya. Makalah ini dibuat
untuk memenuhi tugas mata kuliah “Sosiologi Kependudukan Dan Kesehatan”.
Penyusunan makalah
ini, diharapkan dapat bermanfaat bagi kita semua termasuk penulis. Penulisan
makalah ini dapat kami buat berkat sumber-sumber referensi yang sangat membantu
dan untuk itu penulis mengucapakan terimakasih atas bantuan materi-materinya
yang sangat bermanfaat.
Kami mohon maaf
jika makalah ini banyak kekurangan maka dari itu Kami mengharapkan agar para pembaca
makalah ini dapat memberikan saran serta kritiknya untuk perbaikan yang
semestinya.
Malang,12 April 2016
Penyusun
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR ……………………………………………………………. i
DAFTAR ISI ……………………………………………………………..
ii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1.Latar
Belakang ……………………………………………………………..
1
1.2.Rumusan
Masalah ……………………………………………………………. ............ 1
1.3.Tujuan
Penulisan ……………………………………………………………. ........... 1
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Mobilitas
Penduduk ………………………………………….... 2
2.2. Jenis-jenis
Mobilitas ………………………………………….... 2
2.3. Faktor
Pendorong Mobilitas …………………………………………… 6
2.4. Dampak Positif dan Negatif dari mobiltas
penduduk ...………………………… 8
BAB III PENUTUP
3.1
Kesimpulan …………………………………………………………………… 14
3.2
Saran …………………………………………………………………. .. 14
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………….
15
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Mobilitas
penduduk atau gerakan penduduk adalah bentuk perpindahan penduduk dari
suatu daerah ke daerah lain. Mereka melakukan mobilitas untuk memperoleh
sesuatu yang tidak tersedia di daerah asalnya. Di antara sekian banyak alasan,
alasan yang paling umum yang mendasari orang melakukan mobilitas adalah karena
faktor ekonomi dan kesejahteraan dengan harapan bahwa mungkin saja dengan
melakukan suatu mobilitas, kehidupan mereka yang awalnya kurang sejahtera atau
ekonominya kurang bisa berubah menjadi sejahtera bahkan mungkin makmur. Dengan
begitu kehidupan ekonominya pun akan menjadi lebih baik lagi.
Mobilitas
yang dilakukan oleh beberapa penduduk dalam suatu wilayah atau daerah ada yang
bersifat sementara dan ada pula yang bersifat tetap. Mobilitas penduduk
yang sifatnya sementara dapat dibedakan menjadi komutasi dan
sirkulasi. Sedangkan mobilitas penduduk yang sifatnya menetap atau
permanen disebut migrasi.
Gejala di atas nampaknya tidak
terlepas dari masalah ekonomi dan faktor-faktor yang berkaitan dengan ekonomi.
Tujuan yang paling umum menjadi sasaran perpindahan adalah perkotaan
(urbanisasi).
1.2. Rumusan masalah
1.
Apa pengertian
dari mobilitas Penduduk ?
2.
Bagaiman
Jenis-jenis mobilitas Penduduk ?
3.
Apa factor
pendorogn moblitas penduduk ?
4.
Apa dampak positif
dan negative mobilitas pendudk ?
1.3. Tujuan p
1.
Mengetahui pengertian
dari mobilitas Penduduk.
2.
Mengetahui Jenis-jenis
mobilitas Penduduk.
3.
Mengetahui factor pendorogn
moblitas penduduk.
4.
Mengetahui dampak positif dan negative mobilitas pendudk.
BAB III
PEMBAHASAN
2.1 Penegertian Mobilitas Penduduk
Mobilitas penduduk merupakan pergerakan penduduk yang
meliputi perpindahan penduduk dari suatu tempat ke tempat yang lain baik untuk
selamanya atau menetap maupun tidak menetap. Mobilitas penduduk biasanya
dilakukan untuk memenuhi kebutuhan yang tidak bisa di penuhi di daerah asal.
Adanya mobilitas penduduk ini akanmempengaruhi pertambahan penduduk di wilayah
yang di tuju. Mobilitas pendudk di lakuakn dari suatu tempat ke tempat lain
yang di batasi oleh wilayah administratif. Hal tersebut sesuai dengan
pernyataan Budijanto (1992:47) yang menyatakan bahwa “Mobilitas penduduk merupakan perpindahan
penduduk dari suatu tempat ke tempat lain baik secara menetap maupun tidak menetap
yang di lakukan untuk memenuhi kebutuhan yang tidak dapat di penuhi di daerah
asal”.
Mobilitas penduduk ada yang bersifat sementara dan ada pula
yang bersifat permanen. Mobilitas penduduk yang sifatnya sementara disebut
mobilitas penduduk non permanen. Pada dasarnya penduduk yang melakukan
mobilitas dari wailayah satu ke wilayah lainnya bertujuan untuk menetap di
wilayah yang dikunjunginya. Ada kalanya mereka berpindah untuk sementara waktu
baik dalam waktu harian, mingguan, bulanan, atau mungkin lebih lama lagi.
Mobilitas penduduk semacam ini disebut mobilitas penduduk non permanen.
2.2. Jenis-jenis Mobilitas Penduduk
A. Mobilitas Siskuler
Mobilitas penduduk sirkuler atau mobilitas
penduduk nonpermanen adalahgerak penduduk dari suatu wilayah menuju ke wilayah
lain dengan tidak ada niatan menetap di daerah tujuan. Sebagai contoh, di
Indonesia (menurut batasan sensus penduduk) mobilitas penduduk sirkuler dapat
didefinisikan sebagai gerak penduduk yang melintas batas propinsi menuju ke
propinsi lain dalam jangka waktu kurang dari enarn bulan. Hal ini sesuai dengan
paradigma geografi yang didasarkan atas konsep ruang (space) dan waktu (time).
Data mobilitas penduduk sirkuler sukar didapat.
Hal ini disebabkan para pelaku mobilitas sirkuler tidak memberitahu kepergian
mereka kepada kantor desa di daerah asal, begitu juga dengan kedatangan mereka
di daerah tujuan. Meskipun demikian, dengan segala keterbatasan data, mobilitas
penduduk Indonesia, baik permanen maupun nonpermanen (sirkuler), diduga
frekuensinya akan tentu meningkat dan semakin lama semakin cepat. Menurut
Ananta (1995), suatu revolusi mobilitas tampaknya juga telah terjadi di
Indonesia. Hal ini dipengaruhi oleh tersedianya prasarana transport dan
komunikasi yang memadai dan modern.
Di Indonesia prasarana transport baik darat,
laut, maupun udara telah dibangun dengan baik. Di darat, jalan-jalan yang
menghubungkan wilayah satu dengan yang lain telah dan sedang dibangun (bagi
yang belum ada) dan hagi yang sudah ada ditingkatkan kualitasnya. Pembangunan
jalan lintas Sumatera, lintas Sulawesi, hntas Kalimantan telah lama dimulai
sehingga nantinya orang dari Larantuka (Flores Timur) yang ingin ke Aceh dapat
menggunakan kendaraan bus tanpa berganti kendaraan di perjalanan. Jumlah
kendaraan umum yang menghubungkan wilayah yang satu dengan yang lain makin
meningkat. Mereka tidak hanya menghubungkan antarkota tetapi juga kota dengan
desa dan antardesa. Hal ini menyebabkan hampir tidak ada tempat di Indonesia
(terutama di Jawa dan Bali) yang terisolasi. Hubungan desa dengan kota semakin
erat sehingga dikotomi desa-kota dalam bidang ekonomi dan sosial semakin
menipis.
Hubungan antarwilayah melewati laut juga
mengalami penjngkatan pesat. Jumlah kapal-kapal besar yang menghubungkan
pulau-pulau di Nusantara ini makin befcarnbah. Penyeberangan antarpulau,
misalnya Merak-Bakauhuni, Ketapang-Gilimanuig Padangbai-Lembar (Lombok)
dilayani oleh kapal feri. Beberapa jembatan penyeberangan terbuka 24 jam.
Prasarana transport udara juga tidak kalah maju dengan yang lain. Garuda dan
Merpati Nusantara didampingi oleh heberapa perusahaan penerbangan swasta dengan
pesawat jet terbaru siap menjadi jembatan, mulai tahun 2003 di Indonesia
dilaksanakan peneniban administrasi kependudukan baik untuk penduduk menetap,
migran permanen, maupun untuk migran nonpermanen. Kebijakan yang demikian ini
di samping memperkecil rintangan antara juga telah mendorong pertumbuhan
pusat-pusat kegiatan di kota, terutama di kota-kota sedang dan kecil, dan
membuat pola arus penumpang dan barang berubah menjadi lebih menyebar.
Kota-kota sedang dan kecil tersebut lama kelamaah menjadi semakiri menarik
sehingga mendorong teljadinya migrasi Asirkuler dan memungkinkan meningkatnya
urbanisasi.
Khusus kebijakan di bidang transportasi darat di
Jawa, terutama yang menghubungkan desa dengan kota, sejak tahun 1970 diadakan
perbaikan dan penambahan Jalan-jalan diperlebar dan diperkeras dengan aspal.
Peningkatan prasarana jalan diikuti pula oleh pengadaan endaraan umum yang
mengikuti rute-rute terpencil. Kendaraan umum dari Jepang buatan pabrik
Mitsubishi (di Indonesia dikenal dengan nama colt) memadati rute-rute yang
menghubungkan desa dengan kota dan desa dengan desa sehingga frekuensi
rnobilitas orang, barang dan remitan antara daerah satu dengan daerah lain
meningkat. Pada tahun 1970-an revolusi transportasi ini dikenal dengan sebutan
“Revolusi Colt”.
Di bidang komunikasi, di samping peningkatan
penyiaran melaluj radio dan TV, juga dibangun jaring-jaring telepon untuk
komunikasi domestik dan internasionai diluncurkannya sateiit komunikasi
mengakibatkan daerah-daerah terpencil pun bisa dijangkau oleh hubungan telepon
dan oleh sarana yang lain. Begitu pula halnya dengan hubungan interniasional
(Mantra, 1995). Kemajuan di bidang internet menyebabkan setiap saat kita dapat
mengetahui informasi di segala bidang dan luar negeri.
Kini di Indonesia terutama di kota-kota
pemakaian Mobile Phone atau sering disebut Hand Phone (HP) sudah sangat meluas,
sehingga hubungan antara individu dengan individu tidak perlu lewat telpon umum
atau rumah tetapi dapat mengadakan kontak langsung. Lebih hemat biaya
pengiriman “pesan singkat” (sms) relatif murah, maka banyak orang yang
memilikinya. Dengan meluasnya pemakaian HP maka dunia benar-benar semakin
sempit. Dengan membaikya prasarana transportasi ini maka frekuensi mobilitas
nonpennanen meningkat dan frekuensi mobilitas permanen meningkat Dulu pegawai,
mahasiswa yang aktivitasnya. di Jakarta, mondok Jakarta, kini kebanyakan dari
mereka melakukan mobilitas sirkuler Jakarta dan tempat tinggalnya di luar kota.
Banyak karyawan kantoran yang bekerj a di Jakarta membuat/membeli rumah di
wilayah pinggiran kota Jakarta (Bogor, T angerang, Bekasi) dan dari sana mereka
pergi ke Jakarta untuk bekerja. Sama seperti keadaan
migrasi regional, dengan adanya peningkatan sarana transporsi dan komunikasi,
maka jangkauan mobilitas non permanen semakin jauh dan waktu tempuh semakin
singkat. Di samping itu konsumen, produsen dan pekerja menjadi semakin mobile.
Tenaga kerja akan mencari pekerjaan di wilayah manapun
selama di wilayah tersebut dia mendapatkan upah (penghasilan) yang lebih tinggi maka ada kemungkin dia akan menetap.
B. Komutasi
Komutasi
adalah perpindahan penduduk yang sifatnya sementara pada hari yang sama. Bentuk
mobilitas penduduk ini dikenal juga dengan istilah nglaju atau ulang-alik atau
pergi-pulang. Orang yang melakukan komutasi disebut komuter atau penglaju.
Biasanya pada pagi hari banyak penduduk yang tinggal di daerah pinggiran kota
melakukan mobilitas ke pusat kota untuk bekerja. Pada sore atau malam hari,
penduduk tersebut pulang. Pada mobilitas komutasi tanpa menginap di tempat yang
dituju atau dengan kata lain waktu yang digunakan kurang dari 24 jam.
Pagi
hari mereka berangkat ke tempat yang dituju dan pada sore atau malam hari,
mereka pulang kembali ke rumah masing-masing. Sebagai contoh banyak penduduk
dari daerah sekitar Jakarta tinggal di wilayah sekitar Jakarta seperti Bogor,
Tangerang, Bekasi, dan Depok. Pada pagi hari penduduk dari wilayah sekitar
Jakarta berangkat bekerja ke Jakarta dan sore atau malam harinya mereka
kembali.
C. Migrasi
Migrasi Penduduk dapat dibedakan menjadi 2, yaitu :
- Migrasi
internasional adalah perpindahan penduduk antar negara.
- Migrasi internal
adalah perpindahan penduduk dari satu tempat ke tempat lainnya dalam
satu negara. Migrasi internal yang terjadi di Indonesia
dapat dibedakan menjadi urbanisasi dan transmigrasi.
A. Urbanisasi adalah bentuk migrasi penduduk dapat
terjadi dari desa menuju kota. Urbanisasi terjadi ketika ada
ketimpangan pembangunan antara desa dengan kota. Aktivitas di desa jauh
lebih lambat dibandingkan dengan kota, sehingga terjadi ketimpangan
ekonomi, sosial, dan budaya antara desa dengan kota. Akibatnya penduduk
desa banyak yang tertarik untuk pindah ke kota dengan sejumlah fasilitas yang
ditawarkannya.
Urbanisasi dapat terjadi karena adanya 2 faktor
utama yaitu:
- Faktor
pendorong:
- Makin
sempitnya lahan pertanian di pedesaan karena semakin banyaknya
penduduk dan permukimannya.
- Makin
kecilnya luas pemilikan lahan pertanian, sehingga hasil pertaniannya
tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup penduduk.
- Upah
kerja di desa yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan di kota.
- Meningkatnya
jumlah tenaga kerja di pedesaan sementara lapangan kerja hanya
terbatas pada bidang pertanian yang semakin sempit luasnya.
- Adanya
harapan penduduk desa untuk meningkatkan taraf hidupnya.
- Fasilitas
sosial seperti lembaga pendidikan, tempat hiburan, rumah sakit, dan
fasilitas lainnya jarang atau tidak ditemukan di desa.
- Faktor
Penarik:
- Lapangan
kerja di kota jauh lebih beragam dibandingkan dengan di desa yang
umumnya hanya pertanian.
- Tersedianya
fasilitas pendidikan yang memadai.
- Tersedianya
fasilitas hiburan, olah raga, kesehatan dan rekreasi yang beragam.
- Tersedianya
fasilitas transportasi dan komunikasi yang memadai di perkotaan.
Selain itu, urbanisasi juga memiliki 2 jenis dampak, yaitu:
- Dampak
positif:
- Terpenuhinya
kebutuhan akan tenaga kerja di kota.
- Meningkatkan
taraf kehidupan penduduk desa karena sebagian pendapatannya kembali
ke desa.
- Mengurangi
pengangguran di desa karena sebagian penduduknya bekerja di kota.
- Semakin
berkembangnya aktivitas perekonomian di kota karena banyak penduduk
desa yang membuka usaha di kota.
- Dampak
negatif:
- Berkurangnya
tenaga kerja di desa yang masih produktif dan mau bekerja dalam
bidang pertanian.
- Berkurangnya
tenaga kerja yang memiliki keterampilan dan pendidikan yang tinggi
di desa.
- Aktivitas
pertanian cenderung kurang berkembang karena kurangnya tenaga kerja
muda yang masih produktif dan berpendidikan.
- Banyaknya
tindak kejahatan di perkotaan.
- Meningkatnya
pengangguran di kota karena sebagian urbanisan kesulitan memperoleh
pekerjaan di kota.
- Berkembangnya
permukiman kumuh di kota.
- Munculnya
masalah kemacetan karena makin banyaknya orang yang melakukan
mobilitas.
- Munculnya
masalah lingkungan seperti masalah sampah karena sebagian penduduk
yang pindah ke kota belum bisa menyesuaikan diri dengan cara
hidup di kota.
B. Transmigrasi adalah bentuk perpindahan penduduk dari
daerah yang padat ke daerah yang kurang padat. Orang yang melakukan
transmigrasi disebut transmigran. Transmigrasi adalah bentuk
migrasi penduduk yang khas Indonesia karena tidak dijumpai di
negara lainnya. Di Indonesia transmigrasi dilakukan oleh pemerintah
karena makin besarnya jumlah penduduk di wilayah tertentu, khususnya di
Pulau Jawa dan Bali. Sementara itu, penduduk di luar Jawa masih sedikit
dan lahannya masih sangat luas.
2.3 Faktor
Pendorong Mobilitas
Faktor ekonomi merupakan salah satu faktor yang dikaitkan
dengan terjadinya mobilitas penduduk,karena faktor ini mendorong masyarakat
untuk dapat mencukupi kebutuhan mereka. Maka dengan adanya tuntutan tersebut,
masyarakat melakukan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Selain itu, ketimpangan ekonomi yang terjadi di desa dan perkotaan mendorong
masyarakat untuk melakuakan mobilitas atau perpindahan, kerena di daerah yang
mereka tinggali tidak mampu lagi untuk menyediakan apa yang mereka butuhkan.
Sesuai dengan pertumbuhan penduduk desa yang semakin bertambah dan hal tersebut
tidak sesuai dengan tersedianya lapangan pekerjaan.
Secara umum, situasi pendorong mobilitas sosial dapat
dibedakan menjadi beberapa faktor berikut :
a.
Faktor Struktural
Faktor struktural adalah jumlah relatif dari kedudukan
tinggi yang bisa dan harus diisi serta kemudahan untuk memperolehnya. Contoh
konkretnya adalah ketidakseimbangan jumlah lapangan kerja yang tersedia
dibandingkan dengan jumlah pelamar kerja. Adapun yang termasuk dalam cakupan
faktor struktual adalah sebagai berikut :
1) Struktur Pekerjaan
2) Perbedaan fertilitas
3) Ekonomi Ganda
b. Faktor Individu
Faktor individu adalah kualitas seseorang baik ditinjau dari
segi tingkat pendidikan, penampilan, maupun ketrampilan pribadi. Adapun yang
termasuk dalam cakupan faktor individu adalah sebagai berikut :
1) Perbedaan kemampuan
2) Orientasi sikap terhadap mobilitas
3) Faktor kemujuran
c.
Status Sosial
Setiap manusia dilahirkan dalam status sosial yang dimiliki
oleh orang tuanya, karena ketika ia dilahirkan tidak ada satu manusiapun yang
memiliki statusnya sendiri. apabila ia tidak puas dengan kedudukan yang
diwariskan oleh orang tuanya, ia dapat mencari kedudukannya sendiri di lapisan
sosial yang lebih tinggi, tentu saja dengan melihat kemampuan dan jalan yang
dapat ditempuh, dan hal ini hanya mungkin terjadi dalam masyarakat yang
memiliki struktur sosial yang luwes.
d. Keadaan Ekonomi
Keadaan ekonomi dapat menjadi pendorong terjadinya mobilitas
sosial. Orang yang hidup dalam keadaan ekonomi yang serba kekurangan, misalnya
daerah tempat tinggal yang tandus karena kehabisan sumber daya alam, kemudian
mereka yang tidak mau menerima keadaan ini berpindah tempat tinggal ke daerah
lain. Secara sosiologis mereka telah mengalami mobilitas
e.
Situasi Politik
Situasi politik dapat menyebabkan terjasinya mobilitas
sosial suatu masyarakat dalam sebuah negara. Keadaan negara yang tidak menentu
akan mempengaruhi situasi keamanan yang bisa mengakibatkan terjadinya mobilitas
manusia ke daerah yang lebih aman. Atau bisa juga disebabkan oleh sistem
politik pemerintahan yang bertentangan dengan hati nurani maupun paham yang
dianut. Jadi, meskipun negaranya subur, namun kondisi politik yang tidak
kondusif bisa mempengaruhi mobilitas masyarakatnya.
f.
Kependudukan
Faktor kependudukan biasanya menyebabkan mobilitas dalam
arti geografik. Disatu pihak, pertambahan jumlah penduduk yang pesat
mengakibatkan sempitnya tempat pemukiman dan pihak lain kemiskinan yang semakin
merajalela. Keadaan demikian yang mendorong sebagian warga masyarakat mencari
tempat kediaman yang lain. Misalnya kepadatan Pulau Jawa mendorong para
penduduk mengikuti program transmigrasi ke luar Pulau Jawa.
g. Keinginan Melihat Daerah Lain
Adanya keinginan melihat daerah lain mendorong masyarakat
untuk melangsungkan mobilitas geografik dari satu tempat ke tempat yang lain,
misalnya berekreasi kedaerah-daerah tujuan wisata.
2.4 Dampak Positif dan Negatif
Perpindahan dari desa ke kota juga
dapat lebih di spesifikan lagi menjadi urbanisasi yang merupakan pergerakan
atau perpindahan penduduk yang hanya di batasi dari desa ke kota. Mobilitas
penduduk dapat berdampak pada:
A. Daerah Asal (Desa)
Mobilitas penduduk dapat berdampak
pada daerah asal yakni berkurangnya penduduk yang berkaitan dengan berkurangnya
tenaga kerja, kurangnya perkembangan desa, pengelolaan lahan yang tidak teratur
dan berkurangnya modal desa. Dari pendapat tersebut di atas maka dapat diketahui dampak yang di
timbulkan dari mobilitas penduduk bagi daerah asal yakni berkurangnya
perkembangan di daerah asal, yang sebabkan oleh penduduk yang berpindah ke
daerah perkotaan karena menuntut ilmu atau mencari pekerjaan sehingga ketika
pulang ke desa kebanyakan dari mereka tidak mengembangkan ilmunya, bahkan
kebanyakan dari mereka memilih untuk menjadi warga kota dan ikut berpartisipasi
mengembangkan kota sehingga di daerah asal atau desa kekurangan Sumber Daya
Manusia yang mengakibatkan pembanguanan desa terbengkalai. Alasannya
antara lain adalah untuk melanjutkan pendidikan, mendapatkan pekerjaan yang
lebih baik, mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi, mengikuti orang tua,
suami atau istrinya dan sebagainya. Selain itu, tanah pertanian ataupun perkebunan
yang di tinggalkan penduduk yang berpindah ke kota akan terbengkalai, karena
kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk berdagang di daerah perkotaan karena
dengan pekerjaan tersebut mereka mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi. Hal
tersebut berpengaruh pada produksi desa yang terhambat bahkan tidak berjalan.
Denagn tidak terurusnya lahan di pedesaan tersebut, modal desa akan berkurang
dan dapat mengganggu pembangunann desa. Tingginya minat
penduduk yang terserap dalam ekonomi kota melalui sektor informal karena pada
kenyataannya sektor informal dianggap mampu memberikan kontribusi pendapatan
yang lebihtinggi dibandingkan dengan sektor pertanian”.
B.
Daerah Yang Di Datangi (kota)
Mobilitas penduduk dapat berdampak
pada Keadaan sosial yang mengkibatkan ketegangan sosial, maraknya pengangguran,
demoralisasi atau maraknya kriminalitas dan pertambahan penduduk.
Mobilitas penduduk dapat berpengaruh
terhadap kehidupan sosial masyarakat. Karena adanya perbedaan sifat dan watak
dari masyarakat desa dengan kota yang menyebabkan adanya pertikaian yang dapat
berakibat pada perkelahian. Orang desa dan orang kota mempunyai latar belakang
kehidupan yang berbeda. Orang desa bersifat kekeluargaan dan gotong royong,
sedang orang kota bersifat ekonomis dan individualistis”.
Pertambahan penduduk kota akibat
adanya mobilitas penduduk juga berakibat adanya pemukiman kumuh atau slum area.
Karena tujuan mereka untuk mencari pekerjaan dan dapat mencukupi kehidupan
mereka dan dapat memnatu keluarga di desa. Maka dari itu, mereka lebih memilih
untuk tinggal sederhana dan berkumpul dengan penduduk yang berasal dari daerah
yang sama yang memiliki tujuan yang sama. Pemukiman kumuh ini menjadikan daerah
kota menjadi tidak indah dan dapat merusak citra kota. Pertambahan penduduk di
kota yang di akibatkan adanya mobilitas penduduk tersebut berdampak pada adanya
daerah-daerah kotor ataupun perumahan liar yang di kenal dengan perumahan kumuh
atau slume area. Ketertiban dan kebersiahan kota terganggu.
Dari pendapat di atas, dapat diketahui bahwa
perpindahan penduduk dapat mempengaruhi pertambahan penduduk di daerah yang di
tuju.Maka pertambahan penduduk tersebut dapat mempengaruhi tersedianya
lapanngan pekerjaan. Hadirnya para migran ke kota yang selalu bertambah setiap
harinya dengan tujuan yang sama yaitu untuk mencari pekerjaan dapat menimbulkan
persaingan antara penduduk pendatang dengan penduduk asli. Dengan demikian
pertambahan penduduk yang makin signifikan ini tidak seimbang dengan
tersedianya lapangan pekerjaan. Tingginya pertumbuhan penduduk diperkotaan disatu pihak dan
lemahnya peningkatan infrastruktur sosial ekonomi dilain pihak menimbulkan
permasalahan yang kompleks. Ketersediaan lapangan kerja semakin menjadi tidak
seimbang dengan membengkaknya pencari kerja. Demikian juga pemukiman liar dan
perkampungan kumuh dengan segala dampak negatif yang ditimbulkannya
semakin menjamur, seperti tumbuh suburnya kegiatan disektor informal,
rendahnya pendapatan sebagian besar masyarakat dan tingginya angka
pengangguran.
Dari pendapat di atas dapat
diketahui bahwa kota besar yang di yakini penduduk yang melakukan migrasi dapat
memenuhi kebutuhan mereka untuk mendapat pekerjaan. Bahkan dapat menimbulkan
dampak-dampak yang negatif. Maraknya kriminalitas dan bertambahnya angka
pengangguran menjadi akibat dari tidak tersedianya lapangan kerja.
Mengingat banyaknya tenaga kerja yang memiliki latar belakang
pendidikan rendah dan kurang terlatih, hal ini menyebabkan pengangguran di
kota. Mereka mengalami kesulitan pindah pekerjaan atau enggan pulang ke desa
karena mereka gengsi dan lebih memilih untuk tinggal. Dari tujuan yang sama
dari para migran dan persaingan dengan penduduk asli kota, sehingga penduduk
yang memiliki latar belakang pendidikan yang rendah akan mudah tersisihkan dan
menjadi pengangguran di kota. Mengingat jumlah tenaga yang tidak terlatih atau
terdidik. Pada umumnya penduduk dari desa memiliki tingkat pendidikan rendah.
Bila mereka ke kota menjadi buruh kasar, karena tidak terlatih untuk suatau
pekerjaan khusus. Hal ini dapat menimbulkan pengangguran di kota bila mereka
mengalami kesulitan pindah pekerjaan atau enggan pulang ke desa.
Maraknya pengangguran tersebut berdampak pada tindakan
kriminalitas yang terjadi di kota. Banyaknya masyarakat desa yang ada di kota yang tidak memilki pekerjaan
akan mengakibatkan mereka tidak memiliki penghasilan bahkan tidak memilki uang
untuk kembali ke kampung halaman. Hal tersebut mengundang adanya tindakan
kriminalitas yang mungkin saja di lakukan oleh masyarakat desa yang ada di kota
demi mempertahankan hidup di kota. Kriminalitas tersebut dapat berupa
pencurian, penculikan, penipuan dan lain-lain.
Perencian
Umum dampak Positif dan Negatif dari mobiltas penduduk :
|
Dampak Positif
|
Dampak Negatif
|
|
|
Penanggulangan Dampak Mobilitas Penduduk.
Untuk mengatasi dampak dari mobilitas penduduk tersebut, dapat di
lakukan cara-cara tertentu seperti yang di kemukakan Budijanto (1992:57-58)
yakni dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
a.
Program Pembangunan Desa.
Program
ini dilakukan untuk tercapainya pembangunan desa sekaligus memperluas lapangan
kerja.
b. Penyebaran pembangunan hingga ke
pelosok.
Ini berarti pembangunan desa harus
secara merata.
c.
Hubungan antara desa dengan kota di
perlancar.
Untuk keperluan ini jalur lalu
lintas dan komunikasi antara desa dan kota diperbaiki.
d. Meningkatkan fasilitas keperluan
hidup di desa.
Usaha ini dapat di lakukan dengan
cara membangun sekolah, balai kesehatan, rumah sakit, dan lain sebagainya.
Dari pendapat di atas, dampak mobilitas penduduk tersebut dapat di
atasi oleh pemerintah dengan cara menyediakan lapangan pekerjaan dan
meningkatkan fasilitas yang ada di desa. Peningkatan lapangan pekerjaan dapat
dilakukan dengan membangun pabrik-pabrik kecil, industry pertanian, dan lain
sebagainya. Maka untuk mencapai program tersebut, di perlukan Sumber Daya
Manusia yang terlatih dan memilki pemahaman yang dapat mendukung dalam proses
pembangunan desa. Maka dari itu, peningkatan mutu pendidikan sangat di perlukan
guna membantu program pembangunan desa tersebut.Dengan demikian, peningkatan
fasilitas seperti pendidikan dan lembaga pelatihan khusus di perlukan untuk
mempersiapkan Sumber Daya Manusia yang mendukung program pemeintah untuk
mengurangi dampak mobilitas penduduk.
Dengan demikian usaha ini dapat menjadi disentralisai industri.
Sehingga penduduk desa tidak perlu pergi melakukan mobilitas ke kota.
Pembangunan di desa tersebut harus dilakukan secara merata sehingga tidak
terdapat perbedaan. Dengan demikian semua desa diupayakan dapat menyerap tenaga
kerja di desanya masing-masing.
Dari pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa adanya
hubungan yang baik antara desa kota dapta membantu program pembangunan desa.
Hubungan tersebut bergantung pada akomodasi dan komunikasi yang baik antara
desa dengan kota. Oleh sebab itu, upaya yang harus dilakukan dengan memperbaiki
infrastruktur seperti jalan agar distribusi hasil pertanian ataupun industri di
desa akan mudah untuk tersalurkan. Sehingga akan menambah penghasilan dan modal
desa.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Dari paparan di atas dapat di simpulakan bahwa mobilitas penduduk
merupakan kegiatan penduduk yang berupa pergerakan atau perpindahan penduduk
dari satu wilayah ke wilayah yang lain, yang biasanya di batasi oleh wilayah
administratif. Perpindahan penduduk biasanya dilandasi beberapa faktor.Faktor
ekonomi di anggap sebagai faktor yang paling berpengaruh terhadap mobilitas
penduduk. Kebutuhan dari masyarakat yang menyangkut ekonomi membuat mereka
melakukan perpindahan.
Kurangnya lapangan pekerjaan di desa mendorongmasyarakat untuk melakukan
mobilitas. Ketimpangan pembangunan desa dan kota yang lebih mengedepankan
pembangunan di kota menjadi faktor yang menambah pengaruh masyarakat desa untuk
melakukan mobilitas. Dari banyaknya penduduk yang melakuakn mobilitas ke kota
dengan tujuan yang sama, maka daerah perkotaan menjadi padat dan mengalami
pertambahan pendudukyang mengakibatkan adanya pemukiman kumuh atau slum area.
Pertumbuhan tersebut akan berdampak pada kesempatan kerja, karena adanya
persaingan antara masyarakat desa yang melakukan mobilitas dengan tujuan yang
sama dan masyarakat lokal yang sama-sama mencari pekerjaan.
3.2 Saran
Mobilitas penduduk yang di dorong oleh faktor untuk memenuhi
kebutuhan penduduk yang tidak dapat terpenuhi di daerah asal disebabkan oleh
tidak meratanya pembangunan antara desa dan kota. Untuk mengatasi hal tersebut,
Sebaiknya pemerintah perlu melakukan
pemerataan pembangunan disetiap daerah agar pelaksanaan ekonomi disetiap
wilayah lebih merata. Apalagi dengan kondisi Indonesia yang merupakan negara
kepulauan. Seharusnya pemerintah lebih bisa melakukan pemerataan pembangunan
sehingga kemajuan disetiap daerah akan lebih merata dan tingkat mobilitas
masyarakat ke daerah lain akan semakin berkurang.
Dalam penulisan makalah ini kami
sebagai penulis menyadari akan segala keterbatasan dalam melakukan penulisan
makalah ini oleh karena itu kami sangat terbuka akan setiap kritik, saran yang mebangun ke arah yang lebih baik.
DAFTAR ISI
1. Soerjono Soekanto. 2007. Sosiologi
Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
2.. Mantra, Ida Bagoes. Agus Joko
Pitoyo. 1998. Kumpulan Beberapa Teori Mobilitas Penduduk Buku I. Fakultas
Geografi. UGM
Subscribe to:
Posts (Atom)
-
MANUSIA DAN KEBUDAYAAN 1. PENGERTIAN Budaya berasal dari kata budi dan daya yang memiliki arti cinta, karsa, dan rasa. Kata budaya bera...
-
MOBILITAS PENDUDUK Untuk memenuhi tugas mata kuliah Sosiologi kependudukan dan kesehatan Oleh Kelompok V 2014 B 1. ...
